Wednesday, September 19, 2007

The Maha Luas

reda hujan di sampingku

tanah baru saja kembali menghitam

mata manusia merah, sehabis tinta hitam tumpah

bibir berucap, syukur…

langit kembali mendominasi

bagai anak-anak bersiap menyambut datangnya pesawat

yang menumpangi kedua orang tua mereka

habis sudah kekuatanku!

Jika kamu berpikir tentang kekuatan, tak kan pernah ada ujungnya untuk mengulas. Kekuatan itu perpaduan cinta. Cinta ayah dan ibuku menghasilakan kekuatan, yaitu aku. Huh… begitu layakkah aku menjadi kekuatan bagi mereka?! Aku kuat menopang cinta. Tapi cintaku tak kuat menopang kekuatan. Halah… perpaduan kalimat yang begitu aneh! Busuk untuk di dengar, bull shit untuk di dendangkan. Hingga saat ini, tak banyak yang dapat aku katakan. Mulutku masih terkunci. Dan kuncinya belum ditemukan. Setelah ibuku membuangnya jauh-jauh. Dan ayah, menyekap tubuhku agar tak lari mengejar arah kunci gila itu. Usahaku berontak, sia-sia.

Tuhan begitu baik padaku, Dia kirimkan obor cintaNya yang menerangi hatiku. Hingga tak lagi merasa jenuh dengan kalimat kacau ayah-ibuku. Aku mengendap-endap agar bisa masuk ke dalam hatiNya. Sedikit kuintip lubang kecil di pangkal dunia sebelum masuk ke dalam hatiNya. Eh… aku melihat rupa kerdil berwarna merah. Baunya busuk, tercium dari kejauhan. Makin mengendap, makin ku dekati si kerdil merah itu. Merah dan kerdilnya tak berubah. Bau busuknya makin tercium. Ternyata, jarak kami 1000 tahun cahaya. Begitu jauh…. Akan lapuk diriku untuk sampai menujunya. Makin dekat, makin ku kenal sosok itu. Kerdil…merah…busuk…! Wajahnya samar mirip diriku. Jemarinya, matanya, ah…. Ini diriku! Hanya saja dalam versi berbeda. Yang ini dalam versi dunia, dan yang itu versi di mata Tuhan. Ohhhhhhh….. Tuhanku memandangku. Hati Tuhanku begitu luas! Manusia kerdil berkumpul di sana. Tapi, aku lah yang paling kerdil. Tak apa… yang penting dia masukkan aku ke dalam golongan orang pilihan hatiNya. Alhamdulillah….

0 Comments:

Post a Comment

Subscribe to Post Comments [Atom]

<< Home